Inter Milan harus angkat koper dari Liga Champions 2026 setelah start sempurna 4 kemenangan beruntun. (Sumber: Reuters/KickIDN)
KickIDN – Inter Milan mencatatkan ironi tajam di Liga Champions musim 2025/2026. Mereka sukses menyapu bersih empat laga perdana fase liga, namun akhirnya tersingkir secara tragis di babak playoff usai takluk dari Bodo/Glimt. Perjalanan tim asal Italia ini menjadi studi kasus menarik tentang inkonsistensi di kompetisi tertinggi Eropa.
Awal Mengesankan: Dominasi di Fase Grup
Inter membuka petualangan mereka dengan performa nyaris sempurna. Di bawah asuhan Simone Inzaghi, Nerazzurri tampil perkasa dan meyakinkan publik bahwa mereka layak diperhitungkan.
Beberapa kemenangan penting berhasil diraih, antara lain:
- 2-0 atas Ajax Amsterdam di kandang lawan.
- 3-0 saat menjamu Slavia Praha.
- 4-0 telak menghadapi Union Saint-Gilloise.
- 2-1 melawan Kairat Almaty untuk menjaga rekor sempurna.
Rentetan hasil positif ini membuat KickIDN dan para pengamat sepak bola optimistis Inter bisa melangkah jauh, bahkan menjadi kandidat kuat juara. Fase grup yang dominan menunjukkan kedalaman skuad dan strategi jitu Inzaghi.
Titik Balik: Runtuh di Tengah Jalan
Namun, momentum positif itu sirna seketika. Inter mulai kehilangan arah saat memasuki pertengahan kompetisi. Kekalahan beruntun menghancurkan kepercayaan diri yang sudah terbangun.
Penurunan performa ini ditandai dengan:
- Kekalahan 1-2 dari Atletico Madrid.
- Takluk 0-1 dari Liverpool di kandang sendiri.
- Kekalahan 1-3 dari Arsenal yang memperburuk situasi.
Krisis hasil ini membuat Inter nyaris gagal otomatis ke babak gugur. KickIDN mencatat, lini belakang yang sebelumnya kokoh menjadi rapuh, sementara lini depan tumpul di momen-momen krusial. Hal ini membuktikan bahwa konsistensi adalah tantangan terbesar di Liga Champions.
Harapan Sirna di Playoff: Dramatis dan Ironis
Inter masih bisa melaju ke babak playoff berkat kemenangan penting 2-0 atas Borussia Dortmund di laga pamungkas. Kemenangan itu sempat membangkitkan asa. Sayangnya, harapan tersebut kandas di tangan Bodo/Glimt, tim asal Norwegia yang menjadi kuda hitam.
Dalam dua leg yang berlangsung sengit:
- Leg 1: Inter tumbang 1-3 di Norwegia.
- Leg 2: Inter kembali kalah 1-2 di hadapan pendukungnya sendiri.
Kegagalan ini mengakhiri petualangan Eropa Inter. Ini adalah ironi terbesar: menjadi tim yang sempurna di awal, namun hancur di akhir. Hasil ini memicu pertanyaan besar tentang mentalitas tim saat menghadapi tekanan di laga hidup mati.
Analisis Mendalam: Mengapa Inter Bisa Runtuh?
Ada beberapa faktor kunci yang menyebabkan kehancuran Inter, menurut analisis KickIDN:
- Krisis Mental: Setelah kekalahan pertama dari Atletico Madrid, tim seperti kehilangan fondasi. Beban sebagai tim yang tak terkalahkan justru menjadi tekanan.
- Kedalaman Skuad: Rotasi yang dilakukan Inzaghi di pertengahan kompetisi tidak berjalan mulus. Pemain pengganti tidak mampu memberikan dampak yang sama dengan starter saat tim sedang terpuruk.
- Keberuntungan dan Bodo/Glimt: Faktor lawan juga menentukan. Bodo/Glimt bermain dengan percaya diri tinggi dan tanpa beban, memanfaatkan setiap celah di pertahanan Inter. KickIDN menilai, pendekatan agresif Bodo/Glimt menjadi mimpi buruk bagi Inter yang sedang rapuh.
Apa Kata Dunia?
“Ini adalah pelajaran pahit. Kami tampil hebat di awal, tapi sepak bola modern menghukum ketidakkonsistenan dengan kejam. Kami harus berbenah.” – Simone Inzaghi, Pelatih Inter Milan.
FAQ: Pertanyaan Seputar Tersingkirnya Inter
1. Bagaimana awal perjalanan Inter di Liga Champions musim ini?
Inter memulai dengan luar biasa, memenangkan empat pertandingan pertama fase liga tanpa satu pun kekalahan. KickIDN mencatat ini sebagai start terbaik mereka dalam beberapa tahun terakhir.
2. Siapa yang mengalahkan Inter di babak playoff?
Inter disingkirkan oleh wakil Norwegia, Bodo/Glimt, dengan agregat skor 2-5 di babak playoff.
3. Apa dampak tersingkirnya Inter dari Liga Champions?
Inter kini harus fokus penuh ke kompetisi domestik, yakni Serie A dan Coppa Italia. Secara finansial, mereka juga kehilangan potensi pendapatan besar dari lanjutan kompetisi Eropa.
Kesimpulan: Sebuah Peringatan bagi Raksasa
Perjalanan Inter Milan di Liga Champions musim 2025/26 adalah kisah tentang bagaimana awal yang sempurna tidak menjamin akhir yang bahagia. KickIDN menilai kegagalan ini harus menjadi bahan evaluasi total, terutama dalam membangun mental juara dan kedalaman skuad yang solid.
Kini, semua mata tertuju pada bagaimana Inter bangkit di sisa musim. Akankah mereka belajar dari ironi ini, atau justru kembali terpuruk? Hanya waktu yang bisa menjawab. Pantau terus perkembangan sepak bola Italia dan Eropa hanya bersama KickIDN.
Baca Juga : 5 Perubahan Michael Carrick yang Diam-diam Bangkitkan Manchester United, Kini Tak Terkalahkan!
